Sumber: Wikipedia. Halaman: 27. Bab: Artileri Cina, Artileri Romawi, Artileri Yunani kuno, Artileri gerak sendiri, Bahan pendorong, Batalyon Artileri, Meriam, Pelontar granat, RPG-7, 9K32 Strela-2, Batalyon Artileri Pertahanan Udara Sedang 8, Batalyon Artileri Pertahanan Udara Sedang 13, Batalyon Artileri Pertahanan Udara Sedang 15, Batalyon Artileri Pertahanan Udara Sedang 10, Roket Qassam, Artileri dalam Tentara Nasional Indonesia, Batalyon Artileri Pertahanan Udara Ringan 1, Bubuk mesiu, Batalyon Artileri Pertahanan Udara Sedang 6, Batalyon Artileri Pertahanan Udara Sedang 11, Batalyon Artileri Medan 4, Ballista, GP-25, Meriam kecil, Katapel tempur, Batalyon Artileri Pertahanan Udara Sedang 14, M203, 1,1,1,2-Tetrafloroetana, Turet senjata, Batalyon Artileri Medan 16, NDL-40, Kulverin, Bubuk tak berasap, Howitzer, CEP, Batalyon Artileri Pertahanan Udara Ringan 3, Batalyon Artileri Medan 11, Batalyon Artileri Medan 5, Batalyon Artileri Medan 7. Kutipan: Meriam atau kanon (atau "Lela" dalam Bahasa Melayu) adalah sejenis artileri, yang umumnya berukuran besar dan berbentuk tabung, yang menggunakan bubuk mesiu atau bahan pendorong lainnya untuk menembakkan proyektil. Meriam memiliki bermacam-macam ukuran kaliber, jangkauan, sudut tembak, dan daya tembak. Lebih dari satu jenis meriam umumnya digunakan dalam medan pertempuran. Meriam pertama kali digunakan di Tiongkok, sebagai artileri mesiu paling tua, yang menggantikan persenjataan seperti mesin serbu. Meriam genggam pertama kali muncul pada pertempuran Ain Jalut, antara Mesir dengan Mongol di Timur Tengah. Penggunaan pertama meriam di Eropa diperkirakan terjadi di Iberia, pada saat Reconquista antara Kristen dengan Islam pada abad ke-13. Di Inggris, meriam pertama kali digunakan dalam Perang Seratus Tahun, pada pertempuran Crecy tahun 1346. Pada Abad Pertengahan inilah meriam menjadi senjata standar perang, yang efektif terhadap infanteri dan bangunan. Setelah masa Abad Pertengahan, meriam-meriam berukuran besar ...